Kenapa judulnya “Green Garden”?
Jawabannya simple. Karena aku sangat mencintai tempat ini. Satu-satunya tempat yang bisa kusebut sebagai “Home Sweet Home”. Tapi aku sudah nggak berada di tempat itulagi. Yah, ibuku memutuskan untuk pindah ke tempat asing ini satu tahun yang lalu dan sampai kapanpun aku nggak akan bisa menyebut tempat asing ini sebagi Home Sweet Home.
Dulu, sewaktu pertama kali pindah ke tempat asing ini, aku selalu ingin kembali ke Green Garden, bahkan sempat terbesit dalam pikiran aku ingin membeli kembali rumahku yang dulu.
Tapi setelah meninggalnya sahabatku, semuanya berubah. Walaupun aku sangat mencintai tempat itu dan teman-temanku, aku nggak bisa kembali lagi ke sana. Sekarang yang tersisa dari tempat itu hanyalah kesedihan. Aku nggak bisa lagi bertemu dengan sahabatku. Kalau aku ingat Green Garden, aku akan teingat sahabatku dan itu sangat menyayat hatiku.
Aku selalu teringat keceriannya yang selalu membuatku tertawa setiap bertemu dengannya, kedewasaannya yang selalu membuatku tertegun, kemandiriannya di saat ia tak lagi punya orang tua, ketegarannya dalam menghadapi penyakitnya. Dian-diam aku selalu mengagumi sosoknya. Dan aku nggak pernah sekalipun menang kalau berdebat dengannya.
Aku hanya masih belum percaya ia telah tiada.
Tempat itu “Green Garden” penuh dengan kenangan indah dan aku nggak mau merusaknya dengan kenangan yang menyedihkan. Mungkin untuk saat ini aku nggak mengunjungi tempat itu sampai kesedihan tentang sahabatku hilang.
Jangan bertanya rahasia malam. Tak guna menyingkap tabir mimpi. Sinar malam tak akan membuka apa yang tetap menjadi rahasia. Barangkali nanti ada juga manusia mengucap nama kita dengan air mata rindu gemas ingin kita kembali dari seberang sana... Langkahilah kebenaran dan ulurkan tanganmu ke masa depan yang tak terbatas...
Kamis, 28 April 2011
Minggu, 03 April 2011
Penulis Favorit
Sampai hari ini aku masih membaca ulang “Lord of The Rings.” Mungkin inilah novel yang paling aku suka dan nggak akan pernah bosan ketika membacanya. Tapi sebenarnya dari seri LOTR ini, justru aku paling suka dengan prequelnya, “Isildur”, meskipun bukan J.R.R. Tolkien yang yang mengarangnya.
Aku suka cerita dan gaya bahasa Tolkien (apakah aku harus memanggilnya profesor?) yang berwibawa dan sopan. Sangat berkelas (seenggaknya bagiku). Walaupun peperangan antara manusia dan orc berlangsung keji dan mengerikan, tetapi dengan bahasa Tolkien, semua itu menjadi tidak terasa begitu mengerikan karena dikemas dengan bahasa yang sangat berwibawa.
Aku bertanya-tanya, apakah semua orang eropa mempunyai kesan berwibawa seperti Tolkien? Aku rasa mereka memang terlihat lebih berwibawa daripada orang Amerika yang sok.
Untuk novel atau buku-buku dari luar negeri, aku lebih suka kalau pengarangnya itu adalah pria dibanding penulis wanita. Itu karena gaya bahasa pria lebih halus dan mungkin lebih puitis untuk (beberapa penulis) daripada wanita,dan…terasa lebih romantis (kalau memang itu cerita romantis). Tapi…bisakah kamu membayangkan romantisnya versi luar negeri? Kakakku adalah orang yang suka dengan cerita romantis. Ia membeli beberapa (nggak banyak sih) buku romantis dari luar negeri. Kakakku bilang itu buku yang romantis, dan aku, sebagai pelahap buku, penasaran dan mulai membacanya. Tau apa yang terjadi ketika aku membacanya? Ya Tuhan…buku-buku itu membuatku mual. Aku nggak mau membaca buku-buku seperti itu.
Kita kembali ke tentang penulis pria dan wanita dari luar negeri. Aku merasa gaya bahasa penulis wanita dari luar negeri lebih kasar dan terasa seperti lebih memakai emosi daripada perasaan. Ini membuatku heran. Bukankah wanita itu lebih sensitif dan lembut daripada pria? Atau memang semua wanita barat seperti itu? Aku rasa tidak. Aku suka Stephanie Meyer. Setiap novelnya, seperti Twilight dan The Host, ditulis dengan lembut dan sangat berperasaan (walaupun sebenarnya aku nggak suka The Host. Maaf, aku nggak suka dengan akhir ceritanya. Menggantung dan merupakan akhir yang menyebalkan).
Lain dengan penulis wanita di Indonesia. Mereka bisa memainkan emosi si pembaca ketika membaca buku mereka. Sebut saja Dewi Lestari dan Asma Nadia (dua penulis favoritku). Aku begitu terkesima dengan novel “Perahu Kertas”. Novel dengan cerita yang sederhana, tetapi dikemas dengan bahasa yang anggun dan cukup menguras emosiku. Sangat romantis (catat itu) dan juga terselip semangat untuk nggak menyerah dengan apa yang kita impikan, betapapun mustahilnya itu.
Sedangkan Asma Nadia, bahasanya sangat ringan dan…apa yah…mungkin bisa dibilang sangat terus terang. Maksudnya sangat menuju sasaran. Setiap tulisannya selalu memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada para pembacanya. Itulah yang kumaksud dengan “sangat terus terang dan menuju sasaran”. Asma Nadia selalu menulis buku yang bermanfaat bagi banyak orang. Uang bukanlah tujuannya. Ia pernah berkata ketika aku mengikuti workshop menulisnya, bahwa ia tidak akan menerbitkan buku sebelum ia yakin betul kalau buku itu bermanfaat untuk orang-orang yang membacanya.
Aku terbiasa banyak membaca buku-buku dari luar negeri yang bahasanya lebih berat. Ketika pertama kali membaca buku Asma Nadia “Emak Ingin Naik Haji”, bahasanya sangat ringan, tetapi justru malah aku nggak mengerti. Aku mambacanya sekali lagi, dan akhirnya aku tau mengapa banyak orang yang menyukai buku-bukunya. Hmm…bagaimana ya menjelaskannya. Susah untuk diungkapkan dengan kata-kata selain buku-bukunya selalu memberikan manfaat yang positif dan mengandung pelajaran berharga.
Aku suka cerita dan gaya bahasa Tolkien (apakah aku harus memanggilnya profesor?) yang berwibawa dan sopan. Sangat berkelas (seenggaknya bagiku). Walaupun peperangan antara manusia dan orc berlangsung keji dan mengerikan, tetapi dengan bahasa Tolkien, semua itu menjadi tidak terasa begitu mengerikan karena dikemas dengan bahasa yang sangat berwibawa.
Aku bertanya-tanya, apakah semua orang eropa mempunyai kesan berwibawa seperti Tolkien? Aku rasa mereka memang terlihat lebih berwibawa daripada orang Amerika yang sok.
Untuk novel atau buku-buku dari luar negeri, aku lebih suka kalau pengarangnya itu adalah pria dibanding penulis wanita. Itu karena gaya bahasa pria lebih halus dan mungkin lebih puitis untuk (beberapa penulis) daripada wanita,dan…terasa lebih romantis (kalau memang itu cerita romantis). Tapi…bisakah kamu membayangkan romantisnya versi luar negeri? Kakakku adalah orang yang suka dengan cerita romantis. Ia membeli beberapa (nggak banyak sih) buku romantis dari luar negeri. Kakakku bilang itu buku yang romantis, dan aku, sebagai pelahap buku, penasaran dan mulai membacanya. Tau apa yang terjadi ketika aku membacanya? Ya Tuhan…buku-buku itu membuatku mual. Aku nggak mau membaca buku-buku seperti itu.
Kita kembali ke tentang penulis pria dan wanita dari luar negeri. Aku merasa gaya bahasa penulis wanita dari luar negeri lebih kasar dan terasa seperti lebih memakai emosi daripada perasaan. Ini membuatku heran. Bukankah wanita itu lebih sensitif dan lembut daripada pria? Atau memang semua wanita barat seperti itu? Aku rasa tidak. Aku suka Stephanie Meyer. Setiap novelnya, seperti Twilight dan The Host, ditulis dengan lembut dan sangat berperasaan (walaupun sebenarnya aku nggak suka The Host. Maaf, aku nggak suka dengan akhir ceritanya. Menggantung dan merupakan akhir yang menyebalkan).
Lain dengan penulis wanita di Indonesia. Mereka bisa memainkan emosi si pembaca ketika membaca buku mereka. Sebut saja Dewi Lestari dan Asma Nadia (dua penulis favoritku). Aku begitu terkesima dengan novel “Perahu Kertas”. Novel dengan cerita yang sederhana, tetapi dikemas dengan bahasa yang anggun dan cukup menguras emosiku. Sangat romantis (catat itu) dan juga terselip semangat untuk nggak menyerah dengan apa yang kita impikan, betapapun mustahilnya itu.
Sedangkan Asma Nadia, bahasanya sangat ringan dan…apa yah…mungkin bisa dibilang sangat terus terang. Maksudnya sangat menuju sasaran. Setiap tulisannya selalu memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada para pembacanya. Itulah yang kumaksud dengan “sangat terus terang dan menuju sasaran”. Asma Nadia selalu menulis buku yang bermanfaat bagi banyak orang. Uang bukanlah tujuannya. Ia pernah berkata ketika aku mengikuti workshop menulisnya, bahwa ia tidak akan menerbitkan buku sebelum ia yakin betul kalau buku itu bermanfaat untuk orang-orang yang membacanya.
Aku terbiasa banyak membaca buku-buku dari luar negeri yang bahasanya lebih berat. Ketika pertama kali membaca buku Asma Nadia “Emak Ingin Naik Haji”, bahasanya sangat ringan, tetapi justru malah aku nggak mengerti. Aku mambacanya sekali lagi, dan akhirnya aku tau mengapa banyak orang yang menyukai buku-bukunya. Hmm…bagaimana ya menjelaskannya. Susah untuk diungkapkan dengan kata-kata selain buku-bukunya selalu memberikan manfaat yang positif dan mengandung pelajaran berharga.
Kamis, 31 Maret 2011
Dream
Hujan deras meleraikan setiap helai hati yang tercabik.
Bilamana senja datang, akankah keindahannya menerangi sang jiwa?
Mampukah sang hujan memadamkan api yang membakar emosi?
Wahai pelangi surga, cahayamu bak permadani indah menyusuri relung langit, memberi atap setiap harapan jiwa, menerbangkannya menuju Sang Raja dunia, Maha Pengabul Doa.
Terwujudlah, wahai mimpi indah.
Agar aku bisa menebarkan wewangian kebahagiaan untuk jiwa-jiwa yang menangis...
Bilamana senja datang, akankah keindahannya menerangi sang jiwa?
Mampukah sang hujan memadamkan api yang membakar emosi?
Wahai pelangi surga, cahayamu bak permadani indah menyusuri relung langit, memberi atap setiap harapan jiwa, menerbangkannya menuju Sang Raja dunia, Maha Pengabul Doa.
Terwujudlah, wahai mimpi indah.
Agar aku bisa menebarkan wewangian kebahagiaan untuk jiwa-jiwa yang menangis...
Senin, 19 Juli 2010
Ketika Teman Itu Datang
Kau menderita dan bersikap seolah tak ada yang bisa mengerti dirimu dan kau mengatakan seolah dirimulah yang paling menderita di dunia ini. Kelelahan dan tangis meliputi harimu. Kau hanya terdiam berpangku tangan dan mengatakan "Lihatlah! Hanya aku sendiri". Ketika seseorang bertanya padamu, kemudian kau mengarahkan pandangan yang dingin padanya, itu adalah refleksi yang tak termaafkan. Karena pada hakikatnya, kau yang menempatkan dirimu sendiri dalam kesendirian, dalam kesepian, dan dalam kegelapan yang kau ciptakan sendiri. Apakah pantas kau menyalahkan yang lain? Apakah kau senang hidup dalam kecurangan, hanya untuk mendapat sebuah simpati? Atau apakah kau hanya takut terluka?
Semua orang ada di sekelilingmu. Apakah kau masih mempertanyakannya, mempertanyakan dimana mereka? Aku sudah banyak melihat orang sepertimu menderita dan membusuk. Aku tahu sedihnya kehilangan dan betapa sakitnya penderitaan sampai terasa muak. Tapi, kesendirian dan menolak berbagai macam uluran tangan hanya akan menambah sembab yang tiada berkesudahan di matamu.
Letakkanlah tanganmu di atas tangan temanmu. Lihatlah suatu hari nanti senyum lebar itu akan menghampirimu.
Siapakah yang akan kau panggil sekarang?
Mengapa?
Semua orang ada di sekelilingmu. Apakah kau masih mempertanyakannya, mempertanyakan dimana mereka? Aku sudah banyak melihat orang sepertimu menderita dan membusuk. Aku tahu sedihnya kehilangan dan betapa sakitnya penderitaan sampai terasa muak. Tapi, kesendirian dan menolak berbagai macam uluran tangan hanya akan menambah sembab yang tiada berkesudahan di matamu.
Letakkanlah tanganmu di atas tangan temanmu. Lihatlah suatu hari nanti senyum lebar itu akan menghampirimu.
Siapakah yang akan kau panggil sekarang?
Mengapa?
Senin, 12 Juli 2010
Senyum dan Berusaha…
Aku tak pernah tahu malam seperti ini bisa begitu sepi. Hanya ditemani cuaca yang tak lagi bersahabat. Langit yang tak pernah menghadirkan keindahan cahaya malam. Aku masih mencari sesuatu. Sesuatu yang membuat hatiku terasa lega dan bahagia. Entahlah.
Aku sangat tahu apa keinginanku. Tapi belum bisa mewujudkannya. Bagaimana bisa aku hanya berdiam diri saja seperti ini? Aku sering berpikir bahwa aku sedikit terlambat untuk mewujudkannya. Aku lelah menjadi tong sampah setiap amarah. Lelah menjadi rendah. Apakah aku harus mencapai ketinggian itu, agar semua melihatku? Apakah cuma ada materi di mata mereka?
Aku sedih. Aku sedih melihat diriku tak mempunyai daya apapun. Aku sedih melihat diriku tak mempunyai apapun. Aku sedih melihat diriku yang menyedihkan.
Aku ingin pulang ke tempat itu, dimana semuanya baik-baik saja. Tak peduli buruknya tempat itu, aku ingin pulang ke rumah itu. Tapi aku tak mempunyai keberanian datang ke sana. Aku hanya takut aku akan menangis. Aku benci diriku yang menangis tapi tak bisa berbuat apapun.
Aku suka tempat itu, tempat dimana aku mempunyai semua kenangan tentang ayahku, tempat yang membuatku tak merasa sakit kepala saat memikirkan apapun, tempat dimana aku bermain dengan teman-temanku. Aku rindu tempat itu. Aku rindu semua yang ada di tempat itu. Bisakah aku kembali ke masa-masa dimana aku merasa tidak ada apapununtuk dikhawatirkan? Kurasa itu artinya menjadi anak kecil kembali. Aneh sekali bukan? Ketika kecil, kita sering ingin cepat menjadi dewasa agar bisa membuat keputusan sendiri. Tapi ketika dewasa, seringkali kita ingin kembali menjadi anak kecil yang masih murni, polos, tak pernah memusingkan apapun.
Tapi, aku harus berani menghadapi hidupku sekarang. Aku tak bisa tinggal terus dimasa laluku. Aku harus menghadapi banyak orang dengan berbagai macam karakter yang ada pada diri mereka. Jadi, here iam. Berusaha menikmati dan mensyukuri yang diberikan Allah SWT.
Semoga malam ini dan seterusnya, aku bisa terus tersenyum, untuk orang-orang yang sangat kusayangi. Aku tak bisa mengharapkan orang lain juga akan tersenyum padaku. Tapi setidaknya aku tidak membuat orang lain kesal karena bermuka masam. Jadi, aku harus tersenyum dari dalam hati, berusaha setulus mungkin dan berharap bisa menjadi orang yang lebih baik. Oh bukan. Bukan berharap. Tapi sebisa mungkin menjadi orang yang lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Mungkin aku bisa mewujudkan keinginanku, cita-citaku.
Aku telah melihat bagaimana orang-orang lain mewujudkan impiannya. Tak pernah berputus asa tentang apa yang dicita-citakan. Merasa yakin sekali kalau impian mereka akan terwujud. Atau tak pernah berpikir akan terwujud, tapi mereka tekun mengerjakannya sehingga mereka sukses luar biasa. Aku ingin seperti mereka yang tekun, gigih, dan tak pernah putus asa atas apapun yang mereka kerjakan.
Kurasa aku terlalu banyak bicara, bukan? Baiklah, aku mulai bekerja sekarang….
Aku sangat tahu apa keinginanku. Tapi belum bisa mewujudkannya. Bagaimana bisa aku hanya berdiam diri saja seperti ini? Aku sering berpikir bahwa aku sedikit terlambat untuk mewujudkannya. Aku lelah menjadi tong sampah setiap amarah. Lelah menjadi rendah. Apakah aku harus mencapai ketinggian itu, agar semua melihatku? Apakah cuma ada materi di mata mereka?
Aku sedih. Aku sedih melihat diriku tak mempunyai daya apapun. Aku sedih melihat diriku tak mempunyai apapun. Aku sedih melihat diriku yang menyedihkan.
Aku ingin pulang ke tempat itu, dimana semuanya baik-baik saja. Tak peduli buruknya tempat itu, aku ingin pulang ke rumah itu. Tapi aku tak mempunyai keberanian datang ke sana. Aku hanya takut aku akan menangis. Aku benci diriku yang menangis tapi tak bisa berbuat apapun.
Aku suka tempat itu, tempat dimana aku mempunyai semua kenangan tentang ayahku, tempat yang membuatku tak merasa sakit kepala saat memikirkan apapun, tempat dimana aku bermain dengan teman-temanku. Aku rindu tempat itu. Aku rindu semua yang ada di tempat itu. Bisakah aku kembali ke masa-masa dimana aku merasa tidak ada apapununtuk dikhawatirkan? Kurasa itu artinya menjadi anak kecil kembali. Aneh sekali bukan? Ketika kecil, kita sering ingin cepat menjadi dewasa agar bisa membuat keputusan sendiri. Tapi ketika dewasa, seringkali kita ingin kembali menjadi anak kecil yang masih murni, polos, tak pernah memusingkan apapun.
Tapi, aku harus berani menghadapi hidupku sekarang. Aku tak bisa tinggal terus dimasa laluku. Aku harus menghadapi banyak orang dengan berbagai macam karakter yang ada pada diri mereka. Jadi, here iam. Berusaha menikmati dan mensyukuri yang diberikan Allah SWT.
Semoga malam ini dan seterusnya, aku bisa terus tersenyum, untuk orang-orang yang sangat kusayangi. Aku tak bisa mengharapkan orang lain juga akan tersenyum padaku. Tapi setidaknya aku tidak membuat orang lain kesal karena bermuka masam. Jadi, aku harus tersenyum dari dalam hati, berusaha setulus mungkin dan berharap bisa menjadi orang yang lebih baik. Oh bukan. Bukan berharap. Tapi sebisa mungkin menjadi orang yang lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Mungkin aku bisa mewujudkan keinginanku, cita-citaku.
Aku telah melihat bagaimana orang-orang lain mewujudkan impiannya. Tak pernah berputus asa tentang apa yang dicita-citakan. Merasa yakin sekali kalau impian mereka akan terwujud. Atau tak pernah berpikir akan terwujud, tapi mereka tekun mengerjakannya sehingga mereka sukses luar biasa. Aku ingin seperti mereka yang tekun, gigih, dan tak pernah putus asa atas apapun yang mereka kerjakan.
Kurasa aku terlalu banyak bicara, bukan? Baiklah, aku mulai bekerja sekarang….
Kenangan masa kuliah (part 2)
Sekitar pertengahan 2006, aku mulai aktif di LDK kampus yang bernama RMNI (Remaja Masjid Nurul I’tishom). Pertama kali aku ditempatkan di departemen Syiam (Syiar Islam). Pertama-tama aku nggak ngerti departemen ini fokusnya dimana karena banyak sekali kegiatannya. Aku nggak terlalu inget apa saja kegiatannya. Tapi yang kuingat yang paling sukses adalah acara bedah buku yang waktu itu menghadirkan Reza M. Syarif seorang motivator yang juga lulusan kampusku (katanya sih gitu).
Sebenernya masih banyak kenangan selama aku aktif di RMNI. Aku menemukan teman-teman dan kakak-kakak yang baik. Setiap kali berkumpul dengan mereka, aku merasa…….apa yah?.....hmmm,,,,aku jadi tau tujuan hidup ini untuk apa. Aku juga banyak belajar tentang Islam yang sebelumnya aku hanya mendapatkan pelajaran Islam dari yang formal. Ternyata ikut Tarbiyah itu menyenangkan dan menambah ilmu yang nggak kita dapet ketika belajar formal di kelas.
Aku nggak menyangka Tarbiyah adalah hal yang paling aku rindukan mengingat sewaktu SMA, aku sering kabur dari mentoring atau keputrian di sekolah.
Bukan hanya tarbiyah,,,tapi juga temen-temen yang berkecimpung dalam dakwah. Aku merindukan semua itu. Dari semua hal dan teman-teman yang kurindukan,,,dakwah dan teman-teman seperjuangan dalam dakwah yang paling kurindukan dan ingin sekali selalu berkumpul dengan mereka. Aku rindu suasana dakwah. Aku rindu bagaimana kami berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.
Kalau bulan Ramadhan tiba, hal yang paling kutunggu adalah I’tikaf. Tentu saja aku melakukan I’tikaf untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Tapi ada plusnya….yaitu berkumpul bersama dengan teman-temanku.
Alangkah indahnya kebersamaan dalam Islam….dan aku merindukannya. Mungkin orang-orang akan menganggap remeh ukhuwah ini. Tapi aku yakin ketika mereka merasakannya, mereka akan berpendapat sama denganku. Karena dulu aku juga seperti itu. Tapi lihat sekarang….aku begitu merindukannya.
Sebenernya masih banyak kenangan selama aku aktif di RMNI. Aku menemukan teman-teman dan kakak-kakak yang baik. Setiap kali berkumpul dengan mereka, aku merasa…….apa yah?.....hmmm,,,,aku jadi tau tujuan hidup ini untuk apa. Aku juga banyak belajar tentang Islam yang sebelumnya aku hanya mendapatkan pelajaran Islam dari yang formal. Ternyata ikut Tarbiyah itu menyenangkan dan menambah ilmu yang nggak kita dapet ketika belajar formal di kelas.
Aku nggak menyangka Tarbiyah adalah hal yang paling aku rindukan mengingat sewaktu SMA, aku sering kabur dari mentoring atau keputrian di sekolah.
Bukan hanya tarbiyah,,,tapi juga temen-temen yang berkecimpung dalam dakwah. Aku merindukan semua itu. Dari semua hal dan teman-teman yang kurindukan,,,dakwah dan teman-teman seperjuangan dalam dakwah yang paling kurindukan dan ingin sekali selalu berkumpul dengan mereka. Aku rindu suasana dakwah. Aku rindu bagaimana kami berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.
Kalau bulan Ramadhan tiba, hal yang paling kutunggu adalah I’tikaf. Tentu saja aku melakukan I’tikaf untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Tapi ada plusnya….yaitu berkumpul bersama dengan teman-temanku.
Alangkah indahnya kebersamaan dalam Islam….dan aku merindukannya. Mungkin orang-orang akan menganggap remeh ukhuwah ini. Tapi aku yakin ketika mereka merasakannya, mereka akan berpendapat sama denganku. Karena dulu aku juga seperti itu. Tapi lihat sekarang….aku begitu merindukannya.
Kenangan masa kuliah (part 1)
Masih teringat sekali di benakku ketika pertama kali aku memasuki bangku perkuliahan. Semuanya menjadi baru lagi. Aku selalu nggak nyaman ketika pertama kali memasuki lingkungan baru. Aku selalu bertanya-tanya apakah aku bisa melewatinya, melewati masa-masa yang asing, dimana aku nggak mengenal satu orangpun di lingkungan itu. Sama seperti waktu SMA. Ketika pertama kali aku memasuki lingkungan SMA, aku nggak mengenal siapapun. Hanya masa SMP-lah yang nggak begitu asing bagiku.
Pertama kali aku mengenal teman adalah dengan Naomi dan temannya Yola (kenapa namanya persis sama dengan nama kakakku?) dan juga Hugo dan satu orang cowok lagi yang aku sudah lupa namanya. Kami bertemu selama PPMB dan membentuk kelompok untuk mengerjakan tugas membuat suatu karya dari kemasan minuman fruit tea. Karena kami berlima berdekatan tempat duduknya, maka jadilah kami sekelompok. Tapi pada akhirnya kami tidaknnggak mengerjakan tugas itu. Terlalu sulit dan rumah kami berjauhan. Alhasil, besoknya kami dimarahi sama…….(nggak tau siapa namanya, tapi kayaknya sih ketua senat). Ada sebagian besar kelompok yang diomelin sampe makan siangnya ditunda (kayaknya,,,,agak sedikit lupa).
Lalu, sepertinya teman selanjutnya yang aku kenal adalah Tati. Perjalanan pulang kami searah, tapi kami berpisah di perempatan mega. Aku ke Pulo Gadung dan Tati ke Tanjung Priok. Kemudian, ketika pertama kali kelas dimulai, aku berkenalan dengan Ratna. Selama beberapa hari aku terus bersama Ratna. Lalu, entah dari kapan aku mulai akrab dengan Mega, Tri, Dewi, Ayu, Pipit, Ida, dan yang lainnya.
Aku lupa entah pas akhir tahun 2004 atau 2005, kami mengalami perselisihan yang membuat kami terpecah. Sebenernya kalo diinget-inget lagi, itu cuma masalah sepele. Mungkin kami semua masih belum dewasa yang bisa mengesampingkan emosi. Setelah ulang tahunku, kami terpecah lagi. Nah kalo yang ini sih baru masalahnya rumit. Hmmm….tapi kami sekarang baik-baik saja dan melanjutkan pertemanan kami.
Langganan:
Postingan (Atom)